sains tentang kualitas udara di kabin
mitos dan fakta tentang oksigen di pesawat
Pernahkah kita berada dalam penerbangan jarak jauh, lampu kabin tiba-tiba diredupkan, dan entah kenapa kelopak mata kita terasa sangat berat? Kita terbangun beberapa jam kemudian dengan mulut kering, kepala sedikit pening, dan rasa lelah yang aneh. Momen seperti ini sering kali memunculkan sebuah teori konspirasi klasik di obrolan warung kopi atau forum internet. Teorinya begini: maskapai penerbangan sengaja menurunkan kadar oksigen di dalam kabin supaya penumpang cepat tidur, tidak banyak protes, dan pramugari bisa bersantai. Kedengarannya sangat masuk akal, bukan? Mengingat betapa tenang dan sunyinya kabin setelah makan malam selesai dibagikan. Namun, sebelum kita ikut-ikutan curiga pada pilot di kokpit, mari kita bedah fenomena ini bersama-sama.
Secara psikologis, sangat wajar jika kita mudah percaya pada mitos tersebut. Ketika kita duduk di dalam tabung logam yang melesat dengan kecepatan 800 kilometer per jam di atas awan, kita pada dasarnya menyerahkan seluruh kendali hidup kita kepada orang asing. Otak kita tidak menyukai perasaan kehilangan kendali ini. Untuk mengatasinya, pikiran kita secara tidak sadar mencari pola atau alasan di balik setiap rasa tidak nyaman yang kita alami. Rasa kantuk yang tiba-tiba itu pasti ada yang mengatur, pikir kita. Padahal, sejarah penerbangan mencatat bahwa menciptakan udara yang nyaman di ketinggian ekstrem adalah salah satu tantangan rekayasa paling brutal yang pernah dihadapi manusia. Kita sering lupa bahwa di luar jendela kecil di sebelah kursi kita itu, kondisinya sama mematikannya dengan puncak Gunung Everest.
Mari kita bayangkan sejenak apa yang terjadi di luar pesawat. Pada ketinggian jelajah 35.000 kaki, suhu udara di luar bisa mencapai minus 50 derajat Celsius. Lebih dari itu, udaranya sangat tipis. Jadi, bagaimana caranya udara yang beku dan mematikan itu bisa masuk ke dalam kabin dan membuat kita tetap hidup sambil menonton film? Pesawat modern menggunakan sistem yang disebut bleed air. Udara dari luar dihisap oleh mesin jet yang sangat kuat, dikompresi hingga menjadi sangat panas, lalu didinginkan kembali oleh sistem pendingin pesawat sebelum dialirkan ke kabin kita. Udara ini terus-menerus diganti setiap beberapa menit. Tapi tunggu dulu, jika udara yang masuk adalah udara dari ketinggian 35.000 kaki yang terkenal tipis itu, mengapa kita tidak pingsan karena kehabisan napas? Di sinilah letak kesalahpahaman terbesar kita tentang oksigen.
Fakta ilmiahnya mungkin akan sedikit mengejutkan teman-teman. Baik kita sedang berdiri di pantai Bali maupun sedang terbang di ketinggian 35.000 kaki, persentase oksigen di udara itu persis sama: tepat 21 persen. Pilot tidak punya tombol rahasia untuk mengubah angka ini. Yang membedakan bukanlah jumlah oksigennya, melainkan tekanan udaranya. Di dalam pesawat, tekanan kabin diatur agar setara dengan kondisi saat kita berada di ketinggian sekitar 6.000 hingga 8.000 kaki dari permukaan laut. Bayangkan kita sedang mendaki gunung yang cukup tinggi. Pada tekanan ini, molekul oksigen menjadi lebih renggang. Akibatnya, setiap kali kita menarik napas, darah kita menyerap lebih sedikit oksigen dibandingkan saat kita berada di darat. Kondisi medis ringan ini disebut mild hypoxia. Inilah pelaku sebenarnya! Hypoxia ringan inilah yang membuat kita merasa ngantuk, lelah, dan sedikit lemot. Ditambah lagi, kelembapan udara di kabin sangat rendah, bahkan lebih kering dari Gurun Sahara, yang menjelaskan mengapa tenggorokan kita terasa seperti amplas saat terbangun. Oh ya, soal mitos bahwa udara pesawat penuh kuman karena diputar-putar saja? Itu juga keliru. Pesawat dilengkapi filter HEPA kelas rumah sakit yang menyaring 99,9 persen bakteri dan virus. Udara yang kita hirup di pesawat sebenarnya jauh lebih bersih daripada udara di kantor atau mal.
Pada akhirnya, rasa lelah dan kantuk di pesawat bukanlah hasil konspirasi jahat maskapai yang ingin menghemat biaya atau membungkam penumpang. Itu murni karena tubuh kita sedang bekerja keras beradaptasi dengan hukum fisika di lingkungan buatan manusia yang luar biasa canggih. Penerbangan komersial adalah keajaiban sains yang sering kita anggap remeh karena kita terlalu sibuk mengeluhkan ruang kaki yang sempit. Memahami hal ini mungkin tidak akan membuat kursi kelas ekonomi terasa lebih empuk, tapi setidaknya, pengetahuan ini bisa memberi kita sedikit ketenangan. Lain kali jika kita merasa ngantuk berat di tengah penerbangan, kita tidak perlu curiga. Pejamkan saja mata, minumlah lebih banyak air putih, dan biarkan sains yang menjaga kita tetap bernapas hingga tiba di tujuan.